Jika bekerja sebagai pilot atau pramugari pada perusahaan transportasi udara, sudah pasti Anda bisa menjejakkan kaki ke sejumlah kota, baik lokal maupun mancanegara. Tapi, ternyata dengan bekerja di perusahaan lampu pun Heru Gunadi bisa merasakan hal yang sama.
“Ketika ada event peluncuran produk baru, sudah pasti saya ke luar kota untuk mempromosikan produk tersebut. Ini pengalaman yang mengasyikkan. Karena dari kunjungan itu saya jadi tahu bagaimana suasana daerah dan merasakan masakan khasnya,” ucap Marketing Communication Manager PT Philips Indonesia ini.
Ditambahkannya, secara otomatis dia bisa mengetahui karakter dan budaya di tiap-tiap daerah. Dari kebiasaan masyarakat setempat, ia bisa membuat rencana program launch dan event-event Philips agar hasilnya memuaskan, baik jalannya acara maupun pendongkrakan produk. “Tinggi-rendahnya minat masyarakat terhadap produk, ditentukan dari program tersebut. Jika acara berhasil dan ‘menyentuh’ masyarakat setempat, maka kemungkinan besar produk bisa diterima,” ujarnya.
Pria yang mengawali kariernya di perusahaan otomotif ini, mengaku sekarang bisa merasakan dinamisnya bidang pekerjaan yang digelutinya selama enam tahun. Segala tantangan pun dihadapi. “Intinya bagaimana membuat orang berkonsentrasi pada lampu. Minimal, seseorang membeli dua lampu sekali datang. Maksudnya satu untuk digunakan saat itu, dan satu lagi untuk cadangan,” terang pria kelahiran 15 April 1977 ini.
Fisamawati
Majalah MARKETING
Rabu, April 08, 2009
Heru Gunadi: Dua Lampu Sekali Datang
Selasa, Maret 31, 2009
Wiradi: Marketer Dituntut untuk Punya “Ide Gila”
Setelah “berpetualang” di bidang operasional, ia dipercaya oleh manajemen untuk menangani divisi marketing. Apakah obsesinya dalam berkarier sebanding dengan kompensasinya?
Sudah lama Electronic City menjadi tempat bernaung bagi Wiradi. Hampir tujuh tahun General Manager Marketing Division Head PT Electronic City Indonesia ini bergabung di perusahaan tersebut. Awalnya, ia memulai karier sebagai purchasing barang elektronik, dengan level supervisor.
Kemudian, Wiradi dipercaya untuk menangani operasional toko Electronic City, mulai dari supervisor lapangan, kepala cabang di Jakarta dan luar Jakarta, sampai ke tingkatan kepala cabang untuk beberapa toko Electronic City. “Level kepegawaian saya adalah General Manager, sedangkan level struktural adalah Marketing Divison Head. Ini tahun ketiga saya di posisi tersebut,” katanya.
Ditambahkannya, berada di sekian banyak divisi yang ada di Electronic City, ia bertanggung jawab di divisi marketing. Di divisi itu, ia lebih banyak menangani masalah konsep dan ide-ide untuk pengembangan. “Saya sangat bersyukur, sebelum di posisi ini, saya sudah pernah menangani masalah operasional. Jadi, bisa membantu saya dalam melakukan pertimbangan saat membuat sebuah rancangan atau ide baru yang akan diimplementasikan.”
Wira—begitu ia biasa disapa—sekarang ini boleh berbangga diri. Kerja kerasnya yang dimulai dari titik nol akhirnya membuahkan hasil. Selain sukses di bidangnya, ia pun mahir me-manage karyawannya. “Saat ini saya membawahi 40 orang karyawan, level mereka dimulai dari helper sampai manager,” imbuhnya.
Seperti diketahui, Electronic City merupakan ritel yang menjual alat-alat elektronik dari berbagai merek mulai dari televisi, mesin cuci, komputer, kulkas, hingga kamera digital. Berdiri sejak 11 November 2001, perusahaan ritel ini sudah mempunyai 10 store di antaranya di SCBD, Kelapa Gading, Puri Kembangan, Karawaci, Bandung, Bali, Depok, Bogor, Medan, dan Bekasi.
Konsep Electronic City adalah mengembangkan toko elektronik modern dengan gaya pameran yang memberikan pelayanan terbaik, didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten dan mitra usaha yang berkualitas untuk kepuasan customer.
“Dunia yang saya geluti sangat menarik dan dinamis. Electronic City menggabungkan konsep brand dan retail. Di mana segala sesuatu berjalan dengan ‘cepat’ sehingga setiap hari ada sesuatu hal baru dan menantang,” tambahnya. Lebih lanjut, Wira memaparkan, posisi marketer di industri ritel seperti yang diterapkan Electronic City masih terbilang langka. Karena biasanya, marketer atau brand specialist bertugas untuk melakukan branding terhadap sebuah produk— bukan sebuah toko atau ritel.
Sebagai pimpinan di divisi tersebut, Wira pun harus melaporkan segala sesuatu yang bekaitan dengan kinerjanya selama ini. “Saya langsung melapor pada Bapak Roy Santoso selaku BOD di Electronic City,” tegasnya. Untungnya, dalam menjalankan tugas, ia diberi kesempatan dan kepercayaan melakukan program-program yang ditujukan untuk pelayanan kepada customer.
Apalagi, Electronic City mengemban visi untuk menjadi perusahaan terkemuka dalam bisnis ritel elektronik dengan jaringan terluas dan termodern yang didukung pelayanan yang baik dan fasilitas yang lengkap. “Ini tertuang dalam slogan baru kami, yakni ‘Smart Way of Modern Shopping’ dengan sistem pelayanan one stop shopping yang mandiri,” imbuh alumnus Bina Nusantara jurusan akuntansi angkatan 1995 ini.
Tanpa Batas
Dalam tujuh tahun kariernya, sudah pastilah ada tinta emas yang telah ditorehkan Wira untuk perusahaannya. Namun, rupanya ia enggan menonjolkan diri sendiri. “Bila membicarakan prestasi saya pribadi rasanya kurang tepat. Mungkin lebih tepatnya, prestasi apa pun yang diukir Electronic City adalah sebuah prestasi dari keberhasilan tim. Karena sebagus apa pun ide dan program, tak akan berhasil jika tidak didukung dan dijalankan oleh tim di jajaran Electronic City, baik di garis depan maupun back office,” ucapnya dengan rendah hati.
Ia lantas menyebutkan beberapa prestasi yang pernah dilakukan timnya dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya pembaharuan konsep toko, template iklan, tagline baru, call center, website, dan program sales yang terus-menerus sepanjang tahun dengan semua partner bank dan brand. Tapi, tegasnya, prestasi tersebut bukanlah akhir, melainkan sebuah “proses” yang akan terus dievaluasi dan disempurnakan. “Karena dinamika di industri ritel dan marketing sendiri adalah ‘even the sky is not the limit’,” ujar pria kelahiran Juli 1977 ini.
Sifat tanpa batas pun berlaku bagi kompensasi yang didapatnya. Meski enggan menyebutkan nilai nominalnya karena berbagai faktor, Wira masih mau menjelaskan hitungan kasarnya. Perhitungan itu dilakukan secara rutin plus Tunjangan Hari Raya (THR). Untuk bonus, ada dua perhitungan: target kolektif dan individu. “Kolektif dilihat dari pencapaian target toko, gross profit, dan budget. Sedangkan reward individu, dilihat dari target program divisi masing-masing seperti program membership dan sales program,” ungkapnya.
Sementara itu, sama halnya marketer lain, Wira pun harus mengagendakan meeting dengan berbagai pihak, baik di kantor maupun luar kantor. Waktunya biasanya ia jadwalkan sore atau malam hari. Selebihnya, ia melakukan pekerjaan di belakang meja seperti menuangkan ide, merapikan proposal dan paper work.
“Di pagi hari saya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan konsentrasi tinggi. Dengan adanya meeting, bisa sedikit demi sedikit mencair karena berinteraksi dengan mitra meeting,” tambah pria yang berdomisili di Tangerang ini.
Ada satu hal yang menjadi “wajib” baginya tiap hari, yakni membuka dan membaca koran. Kegiatan tersebut dilakukan pada saat berangkat atau pulang kantor. Tetapi, uniknya, bukan barisan tulisan berita maupun artikel yang dibacanya. Ya, ia lebih gemar membaca jajaran iklan yang terpampang di surat kabar itu. Diakuinya, tak jarang mendapat ide-ide baru dari iklan tersebut, meskipun melihatnya secara sepintas saja.
“Karena tantangan di dunia marketing, ke depannya akan banyak dibutuhkan ‘smart marketer to do smart marketing’. Seorang marketer dituntut untuk mempunyai “ide gila”, inovatif, dan kreatif. Di mana ini dilakukan tanpa adanya batasan kreativitas. Namun, marketer pun harus bisa mengukur efektivitas dari ide-ide tersebut. Singkatnya, seorang marketer juga harus bisa berhitung,” tandasnya mengakhiri wawancara.
Fisamawati
Majalah MARKETING
Senin, Maret 02, 2009
Andy Iskandar: Perlu Customers Insight
Wanita merupakan pasar yang cukup menggiurkan bagi para marketer. Meski demikian, produk yang ditawarkan mesti didukung oleh strategi pemasaran yang tepat. Bila ingin sukses, sang marketer tentu harus memahami keinginan wanita.
Mungkin, gambaran di atas juga mewakili perasaan Andy Iskandar, Marketing Manager Feminine Care PT Kimberly-Clark Indonesia. “Sejak 10 tahun lalu, saya terjun ke dunia marketing di berbagai industri seperti mobil, biskuit, kecap, kosmetik, dan lainnya. Umumnya, semua yang saya pasarkan adalah produk wanita,” kata Andy.
Beragam pengalaman pun sudah dicicipinya. Tanpa sadar senyumnya mengembang mengingat kenangan tersebut. “Uniknya, sewaktu menangani produk kecap, saya tidak bisa masak. Pegang kosmetik pun tidak bisa mencoba. Apalagi sekarang, pegang Kotex juga tidak bisa pakai,” aku pria yang pernah bergabung di Toyota Astra Group, Arnott Biscuit, Kecap ABC, dan Martha Tilaar ini.
Inilah tantangan yang dihadapi pria kelahiran 19 Desember 1971 ini dalam memasarkan produknya. Ia menambahkan, bagaimana bisa presentasi sebuah produk tanpa dilatari pengalaman pribadi. Namun, keinginan Andy untuk mengaplikasikan knowledge sangat besar, meski bukan dari gendernya. Pada dasarnya, dunia marketing secara teori maupun praktik lapangan sifatnya sama. “Pastinya, saya harus tahu apa yang diinginkan konsumen dan mengerti apa kebutuhannya. Jadi, customers insight sangat diperlukan,” tandasnya.
Fisamawati
Majalah MARKETING
Senin, Februari 09, 2009
Herry Swandito: Suka Dunia Kompetitif
Maraknya bisnis layanan internet dan multimedia services tak menjadikan nyali Herry Swandito menciut. Bahkan, jumlah provider yang terus bertambah seiring tuntutan permintaan pelanggan justru bagus menurutnya. “Logikanya, melihat fenomena di atas, maka pasokan market layanan internet semakin meluas. Apalagi, akses internet merupakan kebutuhan yang patut dipertimbangkan. Jadi, services seperti ini perlu,” kata Herry, panggilan akrabnya.
Sebagai Sales & Marketing Director di PT Indosat Mega Media (IM2), kesibukan Herry sehari-hari adalah terus berkutat seputar sistem penjualan layanan IM2 kepada customer. Ketika disinggung soal job desk-nya, spontanitas ia pun menjawab, “Cari pelanggan, cari pelanggan, dan cari pelanggan.”
Lantas, apa tidak jenuh? “Suasana yang kompetitif dalam mencari pelanggan merupakan faktor penyemangat saya dalam bekerja. Bisa dikatakan, ‘kedip sedikit, pelanggan hilang’. Mungkin, jenuh jika suasana industrinya tidak kompetitif,” ujar pria yang mendapat beasiswa dari British Council ini.
Diibaratkan posisinya sekarang ini gampang-gampang susah. Meski berada di dunia yang kompetitif, ia tak pernah berada pada kondisi stuck. Sikap optimisnya yang tertanam kuat memacunya terus mencapai target market yang ditujunya. “Semua tergantung pada services kita kepada customers. Apalagi di dunia kompetitif semacam telekomunikasi, harus mawas biar enggak kecolongan. Inilah tantangannya,” katanya pehobi olahraga yang “ada lawannya” ini.
Fisamawati
Majalah MARKETING
Rabu, Februari 04, 2009
Herdiana Anita: Terobsesi ke level Atas
Di balik tubuhnya yang kecil nan mungil, Nana ternyata memiliki obsesi yang luar biasa tinggi. AV Assistant General Manager PT Sharp Electronics Indonesia yang memiliki nama lengkap Herdiana Anita ini kelak ingin menjabat selevel General Manager dan seterusnya ke atas.
Menurutnya, harapan itu sudah melewati masa pertimbangan yang serius. Bertambahnya tanggung jawab sebagai Assistant GM sekaligus ibu beranak satu, juga bukan kendala baginya. “Dari awal saya memang sudah bekerja. Suami ikut mendukung dan anak pun demikian,” imbuh ibu yang mengaku selalu menanamkan sikap mandiri sejak dini pada buah hatinya.
Meski punya latar belakang pendidikan yang “kurang sesuai” dengan kariernya, yakni lulusan Institut Pertanian Bogor tahun 1990, Nana mengaku tetap optimistis menggapai semua itu. Ini tak terlepas dari kiprah sebelumnya bergelut di perusahaan elektronik seperti LG dan Sony. Prestasinya di Sharp pun patut diacungi jempol, ia tergolong sukses mengedukasi image pasar terhadap produk Ioto lewat TVC.
Tahun 2008 ini, PT Sharp Electronics Indonesia menargetkan pangsa pasar sebesar 32% untuk kategori televisi. Perusahaan asal Jepang ini terus melakukan terobosan baru dan meningkatkan kualitas serta desain yang menarik di setiap produk barunya. Maka, tak heran bila endorser yang dipilih adalah Maia Ahmad.
“Produk Sharp Alexander Ioto, mampu mendongkrak sales, image, dan profit perusahaan. Dulu, Sharp dikenal dengan televisi kuno, tapi sekarang tidak lagi. Menurut saya, nilai dari sebuah merek itu penting. Untuk ke depannya, Sharp akan membuat gebrakan produksi yang semuanya dibuat di lokal seperti model, sound taste maupun produknya,” ujar Nana yang berencana pensiun 15 tahun mendatang.
Fisamawati
Majalah MARKETING
Selasa, Desember 16, 2008
Iwan Purnama: Suka Eksekusi yang Cepat

Lamanya product development di suatu perusahaan bisa menjadi alasan seseorang hengkang dari pekerjaannya. Salah satunya Iwan Purnama, Sales & Marketing Manager PT Faber-Castell International Indonesia. “Sebelumnya saya bekerja di bidang farmasi, dan memutuskan pindah ke Faber Castell tahun 2002 lalu,” ujarnya.
Jika membandingkan kedua pekerjaan tersebut, lanjut Iwan, di Faber Castell ia dituntut kreatif. Maklum saja, setiap tahun tim sales & marketing harus membuat program-program yang berbeda. Tujuannya, tentu saja untuk menarik minat konsumen dan agar tidak membosankan. Sementara di farmasi, eksekusi produk cenderung berjalan lambat karena harus dilatarbelakangi riset terlebih dulu.
“Di farmasi, tiga tahun belum tentu produk baru bisa di-launch. Hingga untuk aplikasi dan inovasi produk memakan waktu yang lama. Ini bertolak belakang dengan kepribadian saya yang lebih menyukai eksekusi dan aplikasi. Jadi, kreativitas tidak mandeg,” papar pria bertubuh jangkung ini. Tidak heran jika Iwan selalu mengarahkan timnya untuk membuat program bagus, misalnya kegiatan menggambar dengan Faber-Castell dalam akuarium hiu di Seaworld, Ancol.
Bisa dikatakan, tugas Iwan adalah menggiring timnya untuk sekreatif mungkin, agar inovasi produk terus berjalan. “Tapi, nilai konsistensi juga diperlukan agar brand Faber Castell tetap diingat konsumen dan terkenal. Hasil akhirnya, selain meningkatkan penjualan, para salesman juga bisa naik jabatan,” kata pria ini dengan bangga.
Fisamawati
MARKETING Edisi Desember 2008
Rabu, November 26, 2008
Helmy Anam: Punya Tim Solid
Berlatar belakang pendidikan komunikasi serta jebolan S2 Manajemen Komunikasi di Inggris, menjadikan Helmy Anam amat pas menduduki posisinya sekarang. Akan tetapi, jabatannya sebagai Head of Marketing Communication di PT Acer Indonesia itu punya tantangan tersendiri. “Tantangannya lebih mengarah pada penerapan ilmu komunikasi yang telah didapat ke perusahaan-perusahaan yang berbeda,” kata perempuan yang terlihat fresh dengan rambut pendeknya ini.
Selain challenging, ungkap Helmy, dunia marketing berbeda dengan profesi lain. Ini bisa dilihat dari banyaknya pengalaman yang terus bertambah setiap harinya. Menurutnya, belajar tidak hanya dari buku-buku saja, tetapi bisa didapat dari pengalaman seseorang. “Dan pastinya, marketing tidak monoton duduk di belakang meja saja,” kata pemilik sifat balance dalam kesehariannya ini.
Profesi Helmy pun tak lepas dari dukungan keluarga seperti suami dan ketiga anaknya. Ini dibuktikan dengan persamaan pandangan dengan sang suami, bahwa pernikahan adalah partner. Ditambah lagi, ketiga putranya yang berusia 7, 5 dan 3 tahun terbilang anak yang mandiri. “Jadi saya punya tim solid,” candanya.
Sejak bergabung dua tahun silam di PT Acer Indonesia, Helmy mengaku lebih banyak mengenyam suka ketimbang duka. Seperti pada malam di pertengahan Februari lalu, merek asal Taiwan ini sukses meraih Top Brand Award 2008. “Ini merupakan buah dari dedikasi panjang kami. Hasil survei dan koresponden yang dilakukan berdampak pada peningkatan kredibilitas perusahaan. Ini bisa mewujudkan misi Acer ke depannya,” ujarnya.
Fisamawati
Kamis, November 13, 2008
Asianti Sukendar: Layaknya Persimpangan Jalan

Keberhasilan karier perempuan yang satu ini patut mendapat acungan jempol. Ada sekelumit cerita yang menghantarnya ke posisi Marketing Director PT Mead Johnson Indonesia. “Layaknya persimpangan jalan, saya dihadapkan pada pilihan sulit. Maklum saja, waktu itu saya baru memiliki anak yang membutuhkan perhatian ekstra. Saya harus memilih antara berhenti bekerja lalu fokus mengurus anak atau sebaliknya,” ungkap Asianti Sukendar.
Kedua pilihan tersebut bukanlah tanpa sebab. Faktor pemicunya adalah perasaan jenuh yang hinggap pada perempuan kelahiran 28 November 1961. Ini bisa dirunut dari sepak terjang kariernya ketika terjun ke dunia marketing. Asianti pernah bergabung denganPT Nestle Indonesia dan PT Danone. Jika ditotal, di Nestle saja Asianti bergabung selama 18 tahun.
Namun, lanjut Asianti, belum sempat mengambil pilihan, datang tawaran dari Mead Johnson. Alhasil, ia pun memupuskan keinginannya untuk berhenti bekerja. “Ini merupakan sebuah tantangan baru bagi saya. Artinya, saya harus bisa memokuskan diri pada dua kesibukan yang berbeda. Untungnya, kedua orang tua saya sudah menerapkan hal ini pada saya. Jadi, saya tinggal mengambil contoh bagaimana cara mengatur waktu antara karier dan keluarga agar selaras,” ujar perempuan berkaca mata ini.
Kini, Asianti bisa bernafas lega. Keputusannya untuk tetap berkarier, ternyata, tak harus menanggalkan sosoknya sebagai seorang ibu pada umumnya. “Program-program kerja di Mead Johnson tak terlepas dari peran serta ibu-anak. Bahkan event yang digelar pun mengusung konsep keluarga, seperti Enfa SmA+rt Adventure. Sambil bekerja, bisa mengajak anak bermain, ” pungkasnya.
Fisamawati