Selasa, Desember 16, 2008

Di Balik Tantangan, Pasti Ada Peluang

Selasa, Desember 16, 2008

Layaknya dua sisi mata uang. Itulah gambaran bisnis Kino Group di tahun 2009. Antara tantangan dan peluang, beda tipis.

Kecenderungan melemahnya daya beli masyarakat, akibat hantaman krisis ekonomi global, jelas berdampak pada industri consumer goods. Krisis bisa menjadikan pergerakan bisnis menjadi solid atau sebaliknya, menjauh dari core-nya. Adapun tiga faktor yang mempengaruhi bisnis, yaitu faktor internal, eksternal, serta industri dan makro.

Secara internal, dirasakan ada beberapa hal yang harus didistorsi nilainya dari bisnis itu sendiri, baik manajemen SDM, intra organisasi (antardivisi), dan decision quality dari profesional di dalamnya. Sedangkan eksternal, yakni consumer habit dan kompetisi maupun reaksi para pemain di setiap market. Lalu, industri dan makro dilihat dari nilai tukar mata uang, financial policy dan instrumen/parameter keuangan lainnya.

Demikianlah pendapat Harry Sanusi, CEO & President Director PT Kino Group, menanggapi kondisi perekonomian dewasa ini. “Kino Group merasakan bahwa 2009 merupakan tahun yang cukup menantang. Kami harus bisa survive dalam situasi apa pun,” ucapnya.

Hingga tahun 2008 ini, pertumbuhan Kino Group hampir di atas 30% per tiap divisi. Diakuinya, walaupun memang masih ada beberapa divisi yang sebelumnya “suffer”, baru mulai menunjukkan performanya. Bicara mengenai kompetisi, ia mengatakan tetap optimistis bisa mendapatkan peluang. Maklum saja, kompetisi di consumer goods tidak semakin kendur sebab industri ini memang cukup hot.

“Untuk itu, haruslah menyikapi segala peluang dan tantangan yang ada sebaik mungkin. Hal pertama yang diperhatikan adalah consumer habit and change. Bila daya beli masyarakat berlari dari satu kecenderungan ke pola yang lain, itu merupakan tantangan. Tetapi, dibalik sebuah tantangan, pasti ada peluang,” tegas Harry.

Buktinya, lanjut Harry, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, peluncuran produk baru keluaran Kino Group selalu mendapat tempat. Hanya saja, semua kembali lagi pada strategi perusahaan dalam me-manage tantangan yang bakal muncul dan mengendalikan risikonya. “Terlepas dari faktor lain yang masih kompleks, secara umum market sudah tertekan sejak tahun 2008.”

Bila tak ada kebijakan yang kondusif, Harry mengungkapkan, maka daya beli akan berada pada curve yang stabil. “Konsumen semakin smart. Menariknya, bila dilihat dari karakteristik konsumen Indonesia, terkadang mereka tidak realitis. Artinya, untuk kebutuhan sehari-hari, mereka tidak leluasa membeli. Tetapi, untuk kebutuhan lain seperti kendaraan dan alat komunikasi, mereka bisa memenuhi itu,” ujarnya.

Maka, diprediksikan tren yang akan booming tahun 2009 adalah konsumen yang mencari produk-produk reliable, sesuai dengan dirinya. Misalnya produk yang bersifat praktis dan mudah digunakan. Tentunya, ini tak terlepas dari harga terjangkau namun bisa memenuhi kebutuhan dan memanjakan konsumen.

Tahun depan, Kino Group tetap stay dengan strategi yang ada. Kino Group akan mengupayakan segala bentuk komunikasi pemasaran, baik above the line (ATL) maupun below the line (BTL). Acuan ketentuannya terletak pada needs and wants konsumen. Target pertumbuhannya berkisar di atas 20% per tahun.

“Strategi ke depannya, setiap market akan ditangani dengan cara yang berbeda-beda. Jadi, dicocokkan dahulu antara target market, produk, serta efektivitas promosinya. ATL dan BTL merupakan alat untuk mewujudkan tanggung jawab tersebut,” ujarnya.

Fisamawati
MARKETING Edisi Desember 2008

0 komentar:

 
◄Design by Pocket