Jumat, Januari 30, 2009

Mencuri Celah di Babies Market

Jumat, Januari 30, 2009
Belajar dari pengalaman pribadi ketika mempunyai anak pertama, Tedriya terinspirasi untuk membuka usaha rental perlengkapan bayi.

“Awalnya saya sempat ragu untuk membuka rental perlengkapan bayi. Maklum saja, selain tidak punya bakat mengelola usaha, rental seperti ini belum marak di kalangan masyarakat khususnya bagi kaum ibu-ibu,” ucap Tedriya mengawali perbicaraan.

Bisa dikatakan usaha yang diberi nama Baby’s World ini adalah pionir di bidang rental perlengkapan khusus untuk bayi dan batita. Saat berdiri tahun 2007 silam, usaha yang banyak menyedot perhatian kalangan pebisnis adalah bisnis franchise. Maka, tak banyak terbersit ide untuk berbisnis rental seperti yang ditekuni Tedriya ini.

Iya—begitu panggilan akrabnya—memulai usaha dari pengalaman pribadinya ketika memiliki anak pertama, Zaki. Untuk menyambut kelahiran sang buah hati, Iya sibuk mengumpulkan benda-benda untuk memberikan “pelayanan” terbaik. Meluapnya kegembiraan tersebut dituangkannya dengan membeli perlengkapan bayi di mal dan toko-toko bayi.

“Belum genap satu tahun, perlengkapan bayi tersebut sudah tidak terpakai dan disimpan di gudang,” ujarnya. Sebab, perkembangan bayi yang tumbuh pesat membuat kegunaan perlengkapan tersebut terasa singkat. Lho, kan bisa disimpan untuk generasi berikutnya? “Pastilah benda tersebut sudah berdebu dan usang. Belum lagi baunya yang apek bisa bikin bayi sesak napas,” lanjutnya.

Faktor di atas bukanlah satu-satunya alasan yang mendorong alumnus Universitas Gunadarma, Depok, ini untuk terjun ke “bisnis langka” tersebut. Pasarnya juga cukup menjanjikan lantaran harga perlengkapan bayi dan pernak-perniknya tergolong mahal. Ini terlihat dari kecenderungan ibu-ibu mengeluh ketika hendak membeli perlengkapan tersebut.

Akhirnya, setelah merasa mantap, Iya mempromosikan rentalnya dengan memasang iklan di sebuah harian lokal. Di samping itu, ia juga gigih menyebarkan brosur-brosur di beberapa rumah sakit dan klinik bersalin—tempat yang efektif untuk berpromosi. Dari situlah pesanan mulai berdatangan satu per satu. “Jadi above the line dan below the line sama-sama memberikan hasil,” katanya.

Diceritakannya, waktu itu perlengkapan bayi yang tersedia cuma boks tempat tidur yang terdiri dari kasur, guling, kelambu, bantal, mainan gantung, music box, dan bed cover. Ditambah stroller, baby walker, dan carseat. Itu pun jumlahnya tak memadai alias terbatas, hingga terkadang pesanan bersifat “waiting list”.

“Tapi, sekarang sudah mengalami kemajuan yang signifikan. Sedikit demi sedikit, saya menambahkan jumlah barang dengan beberapa model sehingga customer bisa memilih model yang pas dengan dekorasi kamarnya. Kalau ditotal, seluruhnya kini berjumlah 100 item plus berbagai macam perlengkapannya,” jelas Iya.

Kendala utama yang dirasakannya adalah masalah transportasi. Keterbatasan armada untuk pengantaran barang menghambat sistem distribusi ke pelanggan. Tak jarang, Iya harus menjelaskan kepada pelanggan untuk sabar menunggu pesanan diantar hingga hari Sabtu dan Minggu—sesuai dengan jadwal hari libur kerja sang suami.

Untuk mempertahankan usaha yang bermodal awal Rp 15.000.000 ini, Iya menjunjung tinggi nilai kepercayaan dan kejujuran pelanggan. Menurutnya, ini penting mengingat kelanggengan usahanya terletak pada nilai tersebut. “Maka untuk menjaga hubungan itu, dibuatlah perjanjian antara saya dan customers dengan melampirkan fotokopi KTP, rekening telepon, dan rekening listrik,” imbuhnya.

Profesionalismenya juga dapat dilihat dari ketentuan-ketentuan yang diterapkan Baby’s World. Misalnya, Iya membuat ketentuan penyewaan minimal selama dua bulan dengan sistem pembayaran di muka. Kalau terjadi kerusakan barang oleh pelanggan, maka dikenakan denda yang berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 5.000.

“Saya pun memberikan services kepada customer dengan mengantarkan barang pesanan sampai ke rumahnya. Ini untuk memudahkan pengiriman, karena umumnya perlengkapan yang disewa berukuran besar dan terkadang tidak bisa dibongkar-pasang,” akunya sambil menunjuk boks tempat tidur kayu sebagai contoh.

Alhasil, kini nama Baby’s World sudah merambah pasar lokal maupun luar daerah seperti kawasan Bogor, Pamulang, Bumi Serpong Damai, Lemah Abang, dan Cibitung. Diakuinya, pesanan lebih banyak berasal dari luar kota ketimbang dari wilayah Depok dan sekitarnya. Mereka datang dengan alasan, penyewaan di daerah mereka tergolong mahal dan prosedurnya sulit.

Baby’s World sendiri memasang tarif yang lebih terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah, pun lebih murah dibandingkan kompetitor. Sebagai gambaran, untuk kurun waktu sebulan, harga sewa boks tempat tidur berkisar Rp 30.000–90.000; stroller Rp 20.000–40.000; carseat Rp 50.000–80.000; dan baby walker Rp 13.000–23.000.

Ditambahkannya, khusus di kawasan Jakarta dan sekitarnya, masih jarang pemain yang bergelut di bisnis rental perlengkapan bayi. Kalau pun ada, kompetitor itu pasti berasal di luar kota. Tetapi, ada beberapa dari mereka yang berkonsultasi kepadanya mengenai tata cara mengelola rental, biasanya dari segi manajemen. “Jadi, masih banyak peluang untuk bisnis babies market seperti ini,” ucapnya optimistis.

Fisamawati
Majalah MARKETING

0 komentar:

 
◄Design by Pocket